안녕하세요?...Welcome to Suray's World & Beyond

where you will see what I treasure and cherish in simple yet wonderful life.


Showing posts with label UT Korea. Show all posts
Showing posts with label UT Korea. Show all posts

Monday, May 2, 2016

AADC 2

Geram dengan AADC 2
 
AADC 2 (Ada Apa Dengan Cinta 2)? Bukan. Bukan itu yang saya maksud. Saya yang berada di Korea hanya bisa gigit jari sembari geram karena tak bisa menonton dan ikut-ikutan antri berjam-jam demi bernostalgia bersama Rangga dan Cinta. Jadi, apa maksud AADC 2 ini?
2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Jadi saya sengaja meminjam singkatan terheboh di tanah air saat ini untuk menelisik tentang “Ada Apa Dengan Cetakan” (AADC) tanggal 2 Mei, yang akhirnya sengaja saya plesetkan menjadi AADC 2. Saya yakin semua orang Indonesia tahu, ingat, dan sadar bahwa hari ini adalah Hardiknas. Entahlah. Jangan-jangan gara-gara (film) AADC ada yang “lupa” bahwa 2 Mei adalah Hardiknas.
Sengaja saya ganti kata yang diwakili oleh huruf “C” (Cinta) menjadi kata “Cetakan”.  Ada apa dengan cetakan? Celotehan apa ini?
Terkait Hardiknas, ada hal yang sempat menggelitik saya, dan saya yakin para pembaca pun juga pernah mempertanyakan hal ini. Mengapa ada Hari Pendidikan dan tak ada Hari Pengajaran? Jika dijawab singkat, maka mendidik berbeda dengan mengajar. Orang yang mendidik, kemungkinan besar dia pun mengajar, bukan sebaliknya. Bahkan bisa dikatakan pula bahwa mendidik sebaiknya lebih diutamakan daripada sekedar mengajar. Dari sinilah bisa dikatakan bahwa mengajar tak ada bedanya dengan mencetak orang. Sementara itu, mendidik tidak mencetak, tapi membentuk orang.
Pengajar berbeda dengan pendidik. Pengajar yang mengajar hanyalah memindah apa yang ada di dalam otaknya kepada anak didik, lebih parah lagi dia sekedar memindah isi buku kepada orang lain lewat “pengajarannya”. Tak ada bedanya dia memberikan cetakan kepada anak didik untuk mencetak hal yang sama. Tak ada celah inovasi. Sedangkan, seorang pendidik menggunakan metode pengajaran sebagai (salah satu) sarananya untuk mempengaruhi daya pikir, daya kayal, bahkan moral anak didiknya. Di sinilah seorang pendidik tidak hanya puas mengajarkan ilmunya, namun dia membiarkan anak didiknya mengembangkan apa yang dipelajari bahkan dia pun ikut membentuk karakter anak didik.
Melongok ke tanah air, setiap tanggal ini pulalah seakan-akan kita “diingatkan” untuk lagi-lagi menengok pelbagai permasalahan yang tersisa (baca: terus ada?) dalam dunia pendidikan kita. Tiap tahun pas tanggal ini maka muncullah isu kurikulum, kualitas guru, kurangnya fasilitas, ketimpangan pendidikan antardaerah, dan “kerak-kerak” masalah yang tiap tahun seakan tiada habisnya dalam dunia pendidikan Indonesia. Untuk itulah, dalam celotehan ini, saya hanya ingin menekankan perkara “cetakan” ini.
Dengan menempatkan diri sebagai seorang mahasiswa dan tutor—dualisme yang saya sandang selama menjadi mahasiswa asing di sebuah universitas di Korea dan selama menjadi tutor di Universitas Terbuka Indonesia (UT) di Korea—saya bermimpi agar setiap orang mau dan berusaha menjadi pendidik. Seorang pendidik tidak harus seorang guru yang secara resmi bekerja dan berkarya di sekolah. Semua orang bisa menjadi pendidik. Identitas apa pun yang kita sandang, entah itu sebagai guru, murid, karyawan, pedagang, pekerja, penjaga toko, tukang parkir, petani, dokter, teknisi, dan apa pun itu, kita bisa menjadi pendidik.
Memang, tak ada salahnya bahwa ketika Hardiknas semua ingatan kolektif kita akan langsung menerawang ke urusan guru dan murid. Dalam Hardiknas ini, saya tiba-tiba merasakan kembali hubungan saya sebagai tutor dan mahasiswa saya di UT yang hampir semuanya adalah para pekerja migran yang kebanyakan hanya dianggap ke Korea cari uang. Justru, ada sebagian dari mereka yang memandang proses “membentuk” diri sebagai tujuan lain mereka ke Korea. Untuk itulah, siapa bilang saya yang mengajar apalagi mendidik mereka? Justru, ternyata selama 3 tahun menjadi tutor, mereka-lah yang telah “membentuk” saya menjadi seorang yang sabar dan sadar akan keberadaan dan identitas saya. Saya belajar banyak dari mereka yang di tengah kesibukan dan himpitan waktu, mereka tetap tegar untuk berusaha menuntut ilmu. Ya, mereka tak sadar telah mendidik saya yang pada awalnya datang untuk mengajar(?) mereka.
Intinya, saya yang pada awalnya hanya ingin mengajar, akhirnya malah belajar dari mereka. Niat berusaha menjadi pendidik yang baik pun semakin terasa. Saya yakin rekan tutor yang lain pun demikian adanya. Inilah yang saya maksudkan. Mahasiswa saya pun “mendidik” saya. Tak bisa lagi saya memandang mereka hanya sebagai pekerja, mereka adalah “pendidik” yang “membentuk” saya. Mereka tanpa sadar mengingatkan bahwa saya sebagai tutor tidak boleh sekedar “mencetak” mereka. Itu mudah tercapai jika saya hanya membaca modul pengajaran, menghafalnya, dan menerocos di depan mereka tanpa berusaha memahami mereka tanpa memberikan kesempatan mereka untuk berkembang. Itulah yang saya rasakan begitu saya “sadar” dan “diingatkan” bahwa 2 Mei adalah Hardiknas.
AADC? Ada Apa Dengan Cetakan? Jangan sekedar mencetak orang. Didiklah mereka sebagaimana mereka pun mendidik kita.
Namun, tak ada salahnya saya comot lagi AADC yang asli.
Ada Apa Dengan Cinta? Jangan sekedar mendidik tanpa Cinta.
 
Seoul, 2 Mei 2016.
 

Monday, March 7, 2016

We Made It: Our Book!!!

Thanks to Agus and Ozy ..and of course other friends..who had helped....preparing for the publication and the...laucnhing.
Yup..as many as 600 books were published ..not to mention the hundreds others back home in Indonesia.
I couldn't be more happier..to know that a lot of students participated in this.
Proud...and happy.
Thank you to all of our students at UT Korea for having made this endeavor ..possible and enjoyable.
We do hope that your stories ...are shared for generations to come.

Books Written by My Students: The Launching Event

I couldn't be more happier. Yup..March 6, 2016 marked the day when finally my personal journey of "rigorously" and "patiently" usurping my students' lives...paid off.  
^^ yup....'usurping'...'violating' in the positive sense....I did come into their lives...asking them to share their stories to be compiled in a book. 
As a member of INAKOS (International Association of Korean Studies in Indonesia), I've been ...lunatically ㅋㅋㅋ hahaha....going after my students, Indonesian migrant workers, student/workers in Korea......to share their stories ....to the public. 
Yeaah...we did it. 
Yup, the book titled "Sensasi Seru Jalan-Jalan di Korsel" was finally re-published in Korea. (After it was published in Jogja last year. It's republished after as many as 23 writers (who are mostly the students of Indonesia Open University in Korea or UT Korea) joined in.  
The event of the launching itself was made possible by the great cooperation of all of the students and tutors at UT Korea. 
We invited the students to the auditorium where we had the event...so as to give a chance for others to see what their peers have achieved. Right. Writing about one's experiences is no easy feat. It takes time and courage and determination...even just to write or retell one's stories into an essay. So the fact that as many as 14 students of UT Korea joined in....indeed overwhelmed me...(being said: I'm proud of them)
Just like last year's event. This year's publication was made possible by a partial support from the Senior Public Diplomacy Group, Ministry of Foreign Affairs, Korea.
We managed to have a pose in front of the event venue....^^
Since we re-launched the book in Korea, of course...only those residing in Korea could attend this Launching Event. Those in Indonesia could not...unfortunately. But..surely enough..they knew about the event.
Thanks to Indonesian Embassy in Korea for their support...
Some of my students...proudly...showing off their books. Yup, their stories, life stories, traveling stories, occupational experiences...are all jotted down in this book.
Bravo, guys. We're proud of you.

Thursday, February 4, 2016

UT Korea Radio Workshop on Public Speaking and Broadcasting (part 2)

Certificate awarding ceremony and post-workshop group photo session...in which we're pretending...to gaze....at something...obscure...I didn't remember what..ㅋㅋㅋ
The whole gang of DJs of our online streaming radio: UT Korea Radio.
More certificates to confer.....to DJ Shane and DJ Kwon.
Some audiences...and me included...and another post-workshop group photo with our colleagues.
More photo session with some staffs from the Embassy. On the right: with DJ Ika from Daegu. Right, she came all the way up to Seoul to participate in the event. Thanks to her for having prepared the event.
Looks like they're not ready yet...
Some tokens of appreciation to all presenters and...one more picture: the manager in charge of UT Korea..Mr Zico and DJ Kwon...with Indonesia's red-and-white flag. 

Monday, February 1, 2016

UT Korea Radio: Workshop on Public Speaking and Broadcasting

Alhamdulillah, we finally made it. After a long overdue, we finally held our workshop on broadcasting and public speaking for our radio DJs and other attendees interested in the field.
Thanks to Indonesian Embassy in Seoul for supporting us: providing the venue, the buffet, and all.^^
And..of course...KUDOS and credits all go to our students at UT Korea for having prepared, arranged, and managed the whole session of the workshop.
It's been a bless, indeed. Looking at these pictures, I cannot but think that they must've felt so relieved after all was done.^^ I mean..all of the committee worked so hard to do this.
So..naturally..they're feeling so relaxed and happy after the workshop was over. 
Just by looking at those expressions..I felt a great relief. I'm proud of my students at UT Korea for all the hard work and dedication they'd poured into making this workshop possible.
Thank you, guys. 고맙다는 말도 뭔가 부족하지만...진심으로 고맙다. 수고했다.
We never got tired of taking picture after picture...ㅋㅋㅋㅋㅋ
After all, this kind of gathering is not often..since we're so apart ...scattered across Korea. We're from Seoul, Cheonan, Daegu, Daejeon, Busan, Gwangju, and other cities...and today..we came to Seoul and met up thanks to the workshop we designed.
다시 한 번....수고했다. Let's get back to our workplace and prepare for our SPRING class.

Sunday, January 24, 2016

UT Korea Radio Awards

..awarded to Sodiq.
..to Benn
To..Denny...
...by Aries and Dr. Chairul
...and me.
..by Dr. Purba
...from me to Denny.
The northen gang of UT Korea Radio.
...rendezvous~ing at Iyagi cafe...@Sangwolgok.
23.30...and we're politely ushered outㅋㅋㅋ

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...