안녕하세요?...Welcome to Suray's World & Beyond

where you will see what I treasure and cherish in simple yet wonderful life.


Showing posts with label hufs. Show all posts
Showing posts with label hufs. Show all posts

Friday, June 19, 2020

Resensi Novel "Tamu Kota Seoul" karya Yusri Fajar

Sebuah Resensi? Mungkin bukan. Jauh dari itu.  

Ini adalah sekedar tuangan perasaan yang saya rasakan saat saya membuka lembar demi lembar yang terbagi sepanjang 32 bagian di dalam novel “Tamu Kota Seoul” karya Yustri Fajar. Terbit Desember 2019.

Yang pasti, ada satu hal yang masih (dan mungkin akan terus) membikin saya terkekeh-kekeh bahkan saat menuangkan ini. Saya akhirnya tersadarkan bahwa nama panggilan saya adalah Musafir, sementara itu saya beristrikan seorang wanita nan fitri bernama Fitriyah.
Jadi, jika Anda selama ini memanggil saya dengan sebutan “Pak Suray” maka Anda telah salah alamat, karena nama panggilan saya (mungkin seharusnya) adalah “Pak Musafir”!!! 
hehehe

Bagaimana mungkin?

Ouuu mungkin saja!
Itulah perasaan (atau pengetahuan?) yang saya rasakan saat menyelami dunia Pak Jagat, seorang dosen tamu dari Indonesia yang ditugaskan mengajar Sastra Indonesia di Jurusan Malay & Indonesia di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) di kota Seoul. Simpelnya, Pak Jagat adalah salah satu tokoh di novel “Tamu Kota Seoul” itu.

 Lho, HUFS kan kampus saya menempuh kuliah S3 yang maunya 4 tahun tapi molor menjadi 6 tahun. Jadi, latar belakang novel ini saja sudah dari awal membuat saya terlilit dan kepincut untuk membacanya. Lho, ternyata lagi, di dalam novel Pak Jagat dikisahkan bertetanggaan dengan Pak Musafir yang katanya adalah dosen UGM yang sedang S3. Hmm, kog seperti saya dulu, ya?

Sebentar, sebentar, sebentar…..memang dosen-dosen UGM yang pernah kuliah S3 di HUFS hanya saya? Hehehe….tidak juga sih. Karena ada yang lain. Namun, ternyata Pak Musafir yang jadi tetangganya Pak Jagat saat tinggal di Seoul itu digambarkan punya dua anak yang bersekolah di Korea dan setiap hari anaknya pakai bahasa Korea. Istrinya ikut lagi menemani sang suami. Nah, lho. Bagaimana saya tidak langsung berkesimpulan dan (bangga) bahwa jangan-jangan Pak Musafir itu mirip atau malah didasarkan dari kisah kisah hidup saya? Hehehe. Jika disuruh memilih semoga ini benar atau salah, maka saya berharap ini benar.

Anyway…itulah yang membuat saya masih terkekeh-kekeh tanda takjub dan kesengsem dengan gaya berceritanya mas Yusri Fajar yang saya akui sangat pintar mengkhayal tingkat tinggi namun berisi. Dia pun mampu menerbangkan kalimatnya dengan detil-detil rumah, apartemen, jalanan, musim, stasiun subway di kota Seoul yang menjadi background kehidupan Pak Jagat. Apalagi pas novelnya mengulik bagaimana Pak Jagat melalui hari-harinya di stasiun Hwarangdae, Deoljogi, Seoggyae, Taereung, Shinimun dll yang memang sangat amat dekat dengan pengalaman saya selama hidup di Seoul selama lebih dari 6 tahun.
Saya hanya bisa menilai bahwa seorang Yusri Fajar memang orang yang jeli, gemesan, dan inquisitive saat memandang sesuatu. Saya jadi penasaran berapa lamakah mas Yusri tinggal di Seoul. Hmmm, seingat saya Mas Yusri sekedar berkunjung bukan untuk menetap. Dia pun juga “tamu” sama seperti Pak Jagat dan Pak Musafir yang jadi tokoh-tokoh novelnya.

Uniknya, Mas Yusri ini jadi seorang “tamu” yang daya ingatannya super duper tajam. Bagaimana tidak, seluruh bagian novelnya penuh dengan narasi dan deskripsi yang unik terkait sudut-sudut kampus di HUFS dan apartemen reot dan tua yang ditempati Pak Jagat, bahkan nama-nama satpam apartemennya saja sampai tahu (hmm kalau ini mungkin dibuat-buat?). Saya jadi penasaran.

Kesimpulan awal saya adalah bahwa mas Yusri berhasil mengaburkan batas-batas realita, fakta, khayalan, dan mimpi yang dia alami dan lihat selama dia berpetualang menjadi tamu di Seoul saat dan kala itu--yang akhirnya berhasil dia tuangkan menjadi sebuah novel. Itulah uniknya.

Begini saja. Mas Yusri itu bukan dosen tamunya. Novel ini juga bukan berdasarkan pengalaman pribadinya, karena dia bukan seorang dosen tamu. Jadi, Pak Jagat itu bukan dan pasti bukan Mas Yusri. Ini bukan otobiografi kisahnya di Seoul. Jadi, tak mungkin dia mendasarkan jalan cerita di novel ini berdasarkan hidupnya. Namun, yang pasti, saya tahu bahwa dia punya sabahat, teman, sekaligus mentor yang kebetulan menjadi dosen tamu di HUFS. Siapa pun yang kenal Mas Yusri Fajar, maka akan bisa menebak-nebak. Saya tak akan menuliskannya di sini siapa beliau yang dijadikan blueprint kasar tokoh Jagat karena lagi-lagi itulah uniknya novel ini. Karena Pak Jagat bukanlah seseorang yang saya kenal walaupun sebenarnya saya rasa-rasanya kenal. Masih ingat kan tadi saya menulis bahwa Pak Musafir bertetanggaan dengan Pak Jagat di apartemen reot yang sama. Saya yang merasa seperti Pak Musafir saja juga antara kenal dan tidak, walaupun sama-sama di HUFS.

Jadi, selama saya membolak-balikkan halaman, saya seakan-akan merasa tahu dan kenal baik Pak Jagat tetapi setelah dipikir-pikir saya sebenarnya tidak begitu kenal juga karena kisah Pak Jagat adalah tokoh khayalannya Mas Yusri. Namun, tokoh khayalan ini saya rasakan sebagai hasil dari gabungan dan gubahan dari berbagai persona-persona seorang akademisi Indonesia yang cinta pada Sastra Indonesia dan para pujangga dan sastrawan Indonesia. Yang kebetulan dikisahkan menjadi dosen tamu di HUFS. Bahkan, mungkin mas Yusri juga sengaja menamainya Pak Jagat yang bisa dimaknai ‘dunia luas’ karena saking luasnya pengetahuan Pak Jagat tentang sastra Indonesia, Sastra dunia, dan seluk-beluknya.

Untuk itulah, saya mau tak mau kudu menuangkan perasaan saya di sini begitu saya merampungkan membaca novel ini.  

Memang, kota Malang dan universitas asal Pak Jagat sebelum berangkat menjadi “tamu” di kota Seoul benar-benar jelas tergambarkan di dalam novel ini. Jadi, banyak pembaca novel ini yang pasti kesimpulannya “mengerucut” bahwa sosok Pak Jagat ini adalah Pak A di universitas X di kota Malang. Uniknya, semakin saya membaca dalam novel ini, saya tidak berani dan tak yakin bahwa Pak A di universitas X itu adalah Pak Jagat karena kepiawaian mas Yusri menjungkirbalikkan dan meramu semua faktor A sampai Z sehingga sosok pak Jagat ini menjadi sebuah tokoh yang memang pas ada dan hanya ada di novel-novel seperti ini. Kisah asmara, kisah keluarga, intrik di kampus, hubungan ayah-anak yang dialami Pak Jagat berhasil membuat saya penasaran benarkah Pak Jagat adalah orang yang saya kenal di HUFS? Rasanya tak mungkin, walaupun ada serpihan-serpihan yang benar adanya.

Satu hal yang pasti, latar belakang seperti kampus HUFS, kota Seoul, nama jurusan, Yogya, Malang, Namdaemun, Hongdae, Myeongdong dan lain-lain memang menyatu dengan sosok Pak Jagat yang mencoba menyeimbangkan “keberuntungan” dan “profesionalisme” plus “keharmonisan keluarga” selama menjadi “tamu” di kota Seoul.

Okay, kini saya akan menuangkan 3 hal unik dan 1 pertanyaan yang membuat saya tertegun karena novel ini.
1. Semua adalah tamu. Ya, semua tokoh yang ada dalam novel ini adalah tamu. Saya pada awalnya berpikir bahwa yang dimaksud tamu adalah Pak Jagat yang diundang HUFS menjadi dosen tamu di Seoul. Namun, gaya penulisan mas Yusri yang mengganti-ganti kaca mata dan sudut penceritaan yang berubah-ubah di banyak bab membuat pembacanya akan merasa bahwa “tamu” ini bisa siapa saja. Tokoh Tika (anak perempuan Pak Jagat), Dong Hun (mahasiswa ganteng pintar di kelasnya Pak Jagat), bahkan Myung Hee (orang Korea yang kebetulan bertetangga dengan Pak Jagat dan yang membuat hati deg-degan pun) bisa disulap menjadi “tamu” di dalam narasi novel ini. Kita pun bisa menjadi “tamu” di dalam diri kita sendiri bila kita tak memahami siapa diri kita.

2.  Kedalaman Budaya. Mas Yusri bukan sekedar menyisipkan isu-isu budaya Korea seperti Hallyu, K-cosmetics, K-Pop, K-Drama seperti Sky-Castle sebagai pemanis atau penghias. Namun, dia berhasil memanfaatkannya menjadi narasi yang membawa alur kisah. Baca saja bab 19 (Tenggelam dalam Konser BTS) yang terus terang menjadi bab pertama yang saya baca!!!! Ya, saya akan jujur. Inilah bab pertama yang saya baca dulu dan sampai belakang lalu kembali ke bab pertama. Apakah tidak bingung? Ternyata tidak…karena justru membuat saya penasaran……dan membuat saya percaya bahwa novel ini layak dibaca tiap babnya. Dari bab 19 ini saya mulai diperkenalkan dengan tokoh-tokoh di novelnya yang ternyata ada anak Pak Jagat dan pacarnya….yang semua ada saling-berkaitan dari awal. Kalau bab 19 saja bisa membuat seorang pembaca tertarik, maka….sisanya bisa juga.

Tentang K-cosmetics pun…mas Yusri berkali-kali menyinggung isu ini. Ada dua tokoh (kalau tak salah Tika, pacarnya, ibunya Tika, dan bahkan Pak Jagat yang isu pembicaraannya nyinggung perlu tidaknya memakai make-up ala Korea. Bukan di satu bab, tapi berulang dan diungkit-ungkit lagi di beberapa bab…tapi memang pas juga dimunculkan ulang dan ulang.

Tentang tokoh-tokoh sastrawan Korea dan Indonesia beserta karya-karyanya pun tak lupa disematkan sebagai “lem” alur cerita di dalam novel ini.

Jika pembacanya bukan penikmat puisi, bisa di-skip, namun bagi yang suka, maka ini adalah a treat not to be missed. 

3. Isu-Isu sensitif di Korea dan Indonesia pun tak lepas dibeberkan di novel ini. Dari kekejaman pemerintah baik Indonesia maupun Korea di jaman pergerakan demokrasi, muatan-muatan novel di kedua negara yang dulu pernah ditakuti penguasa, isu Korea Utara, isu terkait wamil di Korea, sampai intrik-intrik dalam perguruan tinggi pun…menjadi sakarin di novel ini. Ya sakarin. Terkadang ada yang kebanyakan penuangannya. Tetapi, jika Anda penyuka sejarah, maka ini bisa dilihat sebagai vitamin.

4. Tika (anak Pak Jagat) itu lulus SMA di kota Malang, tetapi bisa langsung bisa S2 di HUFS? Hmm….saya masih mencoba mencari penjelasan.
Berarti perlu membacanya lagi atau tanya langsung ke Mas Yusri saja ya?

Itulah tuangan perasaan saya setelah membaca novel “Tamu Kota Seoul” karya seorang novelis bernama Yusri Fajar, yang sebenarnya telah saya kenal. Terima kasih mas Yusri.
Ini adalah karya yang harus saya apresiasi karena menunjukkan dan membuktikan bahwa mas Yusri memang seseorang yang bermata tajam dan tulus dalam menyelami perbedaan perbedaan budaya.

Bagi Anda yang tertarik dengan novel ini, silakan cari “Tamu Kota Seoul” dan bagi Anda yang penasaran dengan siapakah gerangan mas Yusri Fajar ini, silakan cari info tentang beliau dan Anda akan tahu bahwa “melanglang buana” untuk urusan akademik dan non-akademik adalah hobinya.
Hmmmmmmmm, ternyata, sebenarnya yang Musafir adalah mas Yusri Fajar. Not me.^^

Jogjakarta, 12 Juni 2020




Wednesday, January 27, 2016

Minoz???

I should've taken this picture right away. I kept on putting it off..until...just when I was about to take a pic of Lee minhoㅋㅋㅋㅋㅋ at the bus stop...I just realized that someone was about to pull the poster off. GEEEZ. I'm not a fan of Minho..but my sister is. So, I was about to show it off to her....
but then....I was too late......Minoz world. there goes my wish of taking a pic of his while he's on display hahahaha.
guess....better luck next time. 

Sunday, November 29, 2015

KGSP Students in HUFS

Yup....let's hsve some diner ...and...
..okay...this is something..we're having our diner in a Korean restaurant with a uniquely traditional feel to it.
Kami mengadakan mkn malam utk berpisah dan berkenalan dg para penanggungjawab beasiswa kami.
Akhirnya bisa berkenalan dengan banyak teman dari berbagai negara...
Bersama penanggung jawab kami....dan teman teman baru.
Makan di rezto ini lumayan enak juga....
....ini baru seperempat dari total yg seharusnya datang. Memang banyak mahasiswa asing di HUFS...
.penerima beasiswa KGSP. 
Nice meeting you all, dear friends.

Tuesday, November 10, 2015

Pak Tri Dkk Melihat Kampusku!^^

Pak Tri dan rombongan keliling GSIAS ke ruang international lounge.
Mengisi waktu sblm bertemu petinggi HUFS.
Yup...pagi-pagi mereka sdh datang ke kampus...dan melihat sisi lain dr kampusku.

Saturday, November 7, 2015

Talk Concert

Homecoming Day 2015 marked the first series of *Talk Concert* ...???
But before that...we're swooned by an unexpectedly amazing voice of our friend who sang "I will Always Love You" *Beautifully sung*
☆then....we had the talk concert ...by inviting alumni of our almamater who now work in different fields..as..an NGO manager, a professor at a university, an international organization supervisor, and a researcher.
8 pm....and we're so tired to go home....but the freshment was....
...hmm..perfect timing...we got to eat..right?
And lucky draw...
She got wine!!! 대반전이여.
She bartered what she got with something from.someone who got the lucky earlier 🐐🐐 rghhhhht
Oui......it'sso unexpected.
It's our little members of Korean Studies....during 'a staged-talk'...whatever that means. ㅋㅋㅋ

Thursday, October 29, 2015

Wow.....Ternyata...

Terlihat sumringah....pdhl dlm hati...:)
...aduuuuh....hrs presentasi....bikin naskah...
..tp....autumn bisa bikin pikiran sutris jd asiiik.saja dibawanya.
Hmmm...trm ksh teman. 오늘은 넘 즐거웠다.
발표끝난후 찍은 사진이죠. 추억을 간직할....
My dearest fellows in research. ....
Fighting, everyone!!!!
And....keep smiling.

Monday, October 19, 2015

Diner @ Japanese Resto with Rombongan UGM

Wait....what?.ok. I should've put this pic at the end. Anyway...pak Mohtar delivered a token of gratitude to Pak Kim JG.
Walaa....akhirnya datang juga setelah ditunggu. Yup..rombongan pun datang sekitar pkl 7 mlm.
Langsung beraksi di dpn meja makan di resto Jepang di dpn kampus HUFS. Rombongan pak Djoko Suryo dan rekan pun untunglah cocok.
Bu Nining pun datang jauh jauh dari Incheon utk menyambut tamu.
Terima kasih kepada Pak Kim JG yg menjamu kami semua. Akhirnya pesta alumni UGM pun selesai.

Msh berlanjut di dlm gedung sblm pamitan.
Semoga kunjungan yg singkat ini pun berkesan. Matur nuwun pd Pak Djoko pak Mohtar Masoed dan pak Etsar.
Kami pun bercengkerama sebelum pamitan. Terima kasih atas kunjungannya.

Kampusku dr Lt 8 Faculty Building

Baru tahu kalo gedung pusat kog kayak menara miring Pisa. Hmm...sudut pengambilan gambar sj kale.
Musim gugur telah tiba. Dedaunan mulai berubah warna. Indah jadinya.
Och...baru tahu...ada veranda seluas itu di atas cyber hall. Hmm...anyway...it's a beautiful sight in autumn.

Sunday, October 11, 2015

Multicultural Exhibition @HUFS

Again...
Pureun Simin Danche 푸른시민단체 successfully organized a multicultural event...and surely we participate annually.
There's of course. ...cultural parade showcasing reach country's traditional attires and cultures.
Eyra dressed in West Sumatran.traditional dress....with her Mom.
There's also a separate section where visitors could directly enjoy and experience each country's cultural distinctiveness.
What a cultural event be without some musical shows as shown by the representative of Korea.
As for the kids...boy...they had their hands tight...they're so occupied with endless arrays of activities.
All together. 
Hmmm...time to savor some local dishes.
At the unique Ukrainian booth.
Freya got to have her passport full of stamps from.all countries participating in the event.
She just got out of a Mongolian traditional house.
Freya...you looked so gorgeously pretty, dear^^
Gosh....the kids with their friends kept on visiting each booth. They did have a marvelous time.
Eyra met her schoolmates at the venue and they were going about the event....
Happily trting out new stuffs....
And.....boy...oh..girls....they did a tremendous job of sticking up together during the whole afternoon.....
And....so did their Moms.^^

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...